Diariku Sayang

Blog tentang aku, orang-orang di friend list atau apa punlah namanya

Pindah

Filed under: Uncategorized — fajariyoo at 9:42 pm on Monday, November 26, 2007

Lebih Tegas, Lebih Dewasa, Lebih Bijak

Blog saya pindah ke fajariyoo.blogspot.com

Lebih Tegas, Lebih Dewasa, Lebih Bijak

Cinta (Dalam Dua Bagian)

Filed under: Uncategorized — fajariyoo at 8:57 pm on Wednesday, November 7, 2007

Bagian Satu

Melihat Wajah Yang Sedang Jatuh Cinta

 

Ya saya sedang melihat wajah yang sedang jatuh cinta

melihatnya, saya tahu, saya sedang melihat wajah yang
sedang jatuh cinta

saya tahu, karena saya pun pernah mengalami

dulu waktu muda

hehe, sekarang sih sudah dewasa

atau paling tidak merasa menjadi dewasa

balik lagi

saya melihat wajah yang sedang jatuh cinta

gembira hanya karena melihat kampusnya

senang cukup dengan melewati tempat tinggalnya

repot-repot ngga jelas melihat jadwal kuliahnya

ya, saya sedang melihat wajah yang sedang jatuh cinta

teringat adik kelas yang manis

yang kata seorang teman, sesuai untuk saya

memangnya saya cowok apaan?

Tapi saya bertanya juga

apa ia pun jatuh cinta?

 

Ah, suatu hari nanti…

anda akan melihat wajah saya menjadi wajah itu

Wajah yang sedang jatuh cinta

nanti…

 

om, yang ini tidak off the record

kan

?

 

Bagian Dua

Diajari oleh Cinta

 Cinta.
Kata ini yang mempesona banyak jiwa. Ironisnya, kata ini pula yang membuat
banyak jiwa merana nelangsa. Ya, saya pernah mencicipi manisnya anggur cinta.
Saya pernah sesak dada karena serangan virus-virus cinta (tolonglah aku yang sedang
bingung)

 Sekarang,
saya rasa cinta sedang mengajari saya. Mengajarkan dasar-dasar ilmu cinta seperti
Miriam Budiarjo mengajarkan Dasar-dasar Ilmu Politik. Apa yang saya pelajari? Saya belajar untuk jatuh cinta. Saya belajar
untuk jatuh cinta pada orang yang tepat. Jatuh cinta pada orang yang seharusnya.
Saya juga belajar untuk tidak jatuh cinta pada orang yang salah. Pada yang tidak
semestinya.

Bagaimana dengan anda?

Refleksi Personal Momen Idul Fitri 1428

Filed under: Curhat — fajariyoo at 12:08 am on Monday, October 22, 2007

(ditulis diiringi lagu Lembayung Bali_Saras Dewi)

Lebaran merupakan salah satu momen yang baik untuk melakukan refleksi inspiratif. Lebih khusus lagi renungan-renungan tentang hubungan interpersonal. Antara kita dengan orang-orang di sekeliling kita, yang pernah dan sedang berinteraksi. Seseorang yang saya kenal menulis di blognya, seakan dia merasa bahwa ini semua (baca : hubungan pertemanan) cuma masalah kepentingan. Dan bahwa cerita untuk saling menjaga hanya ada di selembar foto kenangan. Miris, tapi serupa itu pula yang saya rasakan. Satu dua orang yang semasa di kampus dulu cukup dekat, kini seakan menjadi orang asing yang tidak saling kenal. Entah, mereka berubah, atau saya yang berubah… Meski lebaran kemarin cukup mengejutkan, bahwa ada pesan-pesan muncul dari mereka yang tidak saya duga. Memang bukan sesuatu yang esensial, tapi pesan-pesan lebaran paling tidak menunjukkan bahwa nama saya masih tersimpan di buku telepon atau daftar email. O iya, maafkan jika ada pesan yang luput saya balas.

Momen lebaran membawa saya pada perenungan, renungan reflektif tentang hubungan interpersonal pribadi. Yang jelas, saya tidak ingin jalinan-jalinan ini berakhir seperti lagu2nya Peter Pan, baik itu ‘Mungkin Nanti’ atau lagu lain bertema sama, tentang jalinan madu yang menjelma empedu. Sehat memang, tapi pahit terasa. Mungkin memang benar, ada saat dimana kita harus ‘kejam’ melupakan masa lalu betapa pun begitu indah. Entah, dinamika hidup memang kadang sulit dimengerti. Tapi Lebaran memang indah, benar?

Jika paska lebaran, banyak bayi terlahir kembali, maka saya pun ingin menjadi salah satunya. Memulai kembali hari yang baru, melepaskan masa-masa lalu. Ya, lebaran kemarin menjadi kendaraan untuk saya mengelana sejenak meninggalkan dunia. Kemudian, izinkan saya menutup tulisan ini dengan sebuah kutipan cerita :

Seorang bijak sedang berjalan-jalan ketika seorang laki-laki terburu-buru keluar dari lorong pintu. Keduanya bertabrakan dengan keras. Orang itu marah-marah dan mengeluarkan kata-kata kasar. Namun, orang bijak tetap tenang dan tidak membalasnya. Ia hanya sedikit membungkuk, tersenyum dan berkata, “Sahabatku, saya tidak tahu siapakah di antara kita yang bertanggung jawab atas ‘perjumpaan’ ini, tetapi saya tidak mau membuang-buang waktu untuk menyelidikinya. Jika saya yang menabrakmu, saya minta maaf. Jika Anda yang menabrak saya, tak apa-apa.” Setelah berkata demikian, orang bijak ini kemudian tersenyum dan membungkuk lagi, lalu meneruskan perjalanannya.

Nah, sekarang saya ingin meneruskan perjalanan. : )

Fajar Ramadhitya Putera

(depan komputer, beberapa saat setelah lebaran)

Doaku

Filed under: Uncategorized — fajariyoo at 11:42 pm on Sunday, October 21, 2007

Doaku Terjawab

Tepat Seminggu

Persis seperti yang ku minta

Maha Suci Allah

Berdoalah, maka doamu akan didengar

Sehabis Menonton “At First Sight”

Filed under: Uncategorized — fajariyoo at 11:39 pm on Sunday, October 21, 2007

Bagaimana jika sejak lahir anda tidak bisa melihat, kemudian baru saat anda dewasa, sebuah operasi memungkinkan anda dapat melihat? Senangkah anda? Tidak sesederhana itu! Bagaimana anda harus belajar untuk melihat, ya, belajar untuk melihat. Pernahkah anda memikirkan hal itu (dan pada dirimu apakah kamu tiada memperhatikan?) Bahwa untuk melihat pun kita telah melalui sebuah proses belajar, sama seperti kita belajar berbicara, menulis, berjalan, sampai mengendara motor atau mobil. Bukan cuma itu, konflik psikologis saat beralih dari kondisi tidak melihat ke kondisi melihat pun tidak mudah disikapi. Jika anda bertahun-tahun buta dan telah menyesuaikan diri dengan itu, kemungkinan dapat melihat boleh jadi bisa membawa anda masalah baru.

Kita di Antara Dua Wajah Korporasi

Filed under: Wacana — fajariyoo at 11:37 pm on Sunday, October 21, 2007

Sebuah pemaknaan ulang mengitari benak saya akhir-akhir ini. Tentang wajah dua korporasi. Saya sadar bahwa dalam satu dunia global ini, tidak satu pun tindakan kita (bahkan yang kecil sekalipun) yang tidak berdampak pada keseluruhan tatanan dunia. Seperti yang digambarkan oleh Butterfly Effect. Sampai beberapa masa ke belakang, saya masih dapat menerima wacana-wacana boikotisasi. Tapi saya belakangan menyadari bahwa ternyata, korporasi yang sama ternyata melakukan berbagai aksi sosial, entah di bidang pendidikan, kesehatan atau pengembangan ekonomi rakyat. Bagaimana ini? Jika benar, maka tentu kita akan berperan pula dalam kerja-kerja sosial demikian ketika kita mengonsumsi produk dari korporasi tersebut. Setiap rupiah yang kita belanjakan, tentu turut membantu proyek-proyek sosial tersebut, apalagi ini dilakukan di negeri sendiri. Jika demikian, mungkin yang perlu dilakukan adalah mengecam tindakannya, bukan pribadinya atau dalam hal ini, bukan mengecam perusahaannya, tapi mengecam tindakannya. Entahlah, saya bukan siapa-siapa, cuma seseorang yang sedang mencari jawaban. O ya, jangan lupa dengan kenyataan bahwa korporasi tersebut juga menanggung ribuan karyawan yang menggantungkan hidupnya pada operasional perusahaan.

Belajar dari Jaka Tarub

Filed under: Uncategorized — fajariyoo at 2:48 am on Wednesday, September 12, 2007

 Jatuh cinta
adalah fitrah. Setiap insan pasti merasakannya. Namun bagaimana bila seseorang
yang anda suka ternyata memiliki kualifikasi di atas anda. Katakanlah dia itu
nilainya “A” sementara anda cuma “B”. Dia adalah bidadari, sementara anda cuma
manusia biasa. Haruskah anda melepaskannya karena anda tidak berada pada level
yang sama. Beberapa hari lalu, saya ngobrol ringan tentang ini…

 

Saran saya adalah :

Belajarlah dari Jaka Tarub

Curilah selendang sang bidadari

Hingga ia tak dapat pulang ke istana langit

Kemudian jadilah pahlawan

dengan melindunginya hidup di bumi

 

Sekarang selendang siapa yang akan anda curi?

 

Tips Hadiah Bengbeng

Filed under: Uncategorized — fajariyoo at 2:43 am on Wednesday, September 12, 2007

Berminat mendapatkan hadiah gratis dari Bengbeng? Seperti kita ketahui, Bengbeng hingga akhir tahun ini mengadakan promo. Dimana dalam kemasan khusus terdapat hadiah-hadiah langsung, mulai dari Bengbeng gratis, sejumlah uang dan hadiah lain.
Nah, sekedar berbagi saja pengalaman pribadi. Ternyata kemasan khusus yang dimaksud tersebut memang bertanda khusus, atau dengan kata lain memiliki barcode khusus. Jadi dengan sedikit pilih-pilih, kita bisa mendapatkan kemasan yang berhadiah tersebut. Untuk kasus saya, saya menemukan bahwa kemasan dengan barcode TG4424 ternyata semua berhadiah, padahal selain itu dalam satu paket yang sama, kemasan yang lain berbarcode TG4444 tidak berhai informasi, barcode merupakan tanda produksi dari suatu pabrik pada satu proses rangkaian produksi. Jadi pada satu paket, seharusnya barcodenya sama. Akan tetapi ternyata, kemasan yang berhadiah itu memiliki barcode berbeda dengan yang lain meski dalam satu paket yang sama. Mungkin memang pada proses produksi, kemasan bertanda khusus dibuat sendiri kemudian pada saat pengemasan dicampur dengan kemasan biasa. Nah yang jadi pertanyaan, kenapa dalam satu paket, barcodenya berbeda? Jika terjadi sesuatu, bagaimana perusahaan bisa melacak produk yang bermasalah?
Kembali ke tips, jadi jika ingin mendapatkan hadiah, ketika membeli, pilih yang barcodenya berbeda dari yang lain. Selamat mencoba!( yah, paling tidak itu berhasil buat sy)

Bulan ini, dua tahun yang lalu

Filed under: Uncategorized — fajariyoo at 9:36 pm on Wednesday, June 6, 2007

Sabtu, 4 Juni 2005 Walimah Sensei Tifan
Senin, 6 Juni 2005 Quarum Sensing
Selasa, 7 Juni 2005 Not remember
Rabu, 8 Juni 2005 Transit Venus
Kamis, 9 Juni 2005 Rapat DS, Rapat KCD, Tatsqif
Sabtu, 11 Juni 2005 Perwalian, Syukuran DS, Bimbingan
Minggu, 19 Juni 2005 Nengok Rihlah Pharma, DMKT
Kamis, 23 Juni 2005 Rapat DS (perpisahan Uni Yovi)
Sabtu, 25 Juni 2005 Kejadian Konyol
Selasa, 28 Juni 2005 Ujian Praktikum
Kamis, 30 Juni 2005, Tatsqif

Friendster and Our Friends

Filed under: Uncategorized — fajariyoo at 8:46 pm on Friday, June 1, 2007

Friendster and Our Friends

Seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengenal teman kita?

Atau mungkin variabelnya bukan waktu, tapi intensitas interaksi yang terjalin?

Salah satu fasilitas populer dari layanan friendster adalah testimonial and comments.

Sebuah pertanyaan timbul, seberapa jauh kita bisa mempercayai apa yang disampaikan testy ini?

Bagaimana kita tahu, informasi yang tercantum tetap obyektif dan tidak terpengaruh pandangan subyektif?

Bagaimana kita tahu, bahwa seseorang memang “seperti digambarkan”, melalui teman-temannya? Apa tidak ada kemungkinan penambahan bumbu-bumbu disana?

Hubungan pertemanan biasanya mengembangkan sikap saling mengerti, sehingga sikap kurang baik dapat diredusir nilainya menjadi sebuah pemahaman bahwa “dia memang seperti itu”.

Tapi paradoks pun muncul, karena sering berinteraksi, teman biasanya cukup tahu sejatinya karakter seseorang. Jadi mungkin memang bisa menggambarkan karakter orang tersebut.

Jadi bingung. Gimana ini teh?

Next Page »